Minggu, 06 Mei 2012

Laporan Hukum Mendel


HUKUM MENDEL

A.     Tujuan Percobaan
Mengetahui dan memahami persilangan monohybryd

B.     Landasan Teori
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid. (Syamsuri, 2004:101)
Hukum Mandel I berlaku pada gametogenesis F1. F1 itu memiliki genotif heterozigot. Baik pada bunga betina maupun benang sari, terbentuk 2 macam gamet. Maka kalau terjadi penyerbukan sendiri (F1 x F1) terdapat 4 macam perkawinan. (Wildan Yatim, 1996:76).
Pada galur murni akan menampilkan sifat-sifat dominan (alel AA) maupun sifat resesif (aa) dari suatu karakter tertentu. Bila disilangkan, F1 akan mempunyai kedua macam alel (Aa) tetapi menampakkan sifat dominan (apabila dominant lengkap). Sedangkan individu heterozigot (F1) menghasilkan gamet-gamet, setengahnya mempunyai alele dominant A dan setengahnya mempunyai alele resesif a. Dengan rekomendasi antara gamet-gamet secara rambang populasi F2 menampilkan sifat-sifat dominant dan resesif dengan nisbah yang diramalkan. Nisbah fenotif yaitu 3 dominan (AA atau Aa) : 1 resesif (aa). Nisbah geneotif yaitu 1 dominan lengkap (AA) : 2 hibrida (Aa) : 1 resesif lengkap (aa). (L. V. Crowder, 1997:33)
Sifat yang muncul pada F1 disebut sebagai sifat dominant (menang), sedangkan yang tidak muncul disebut sifat yang resesif (kalah). Oleh Mendel, huruf yang dominant homozigot diberi symbol dengan huruf pertama dari sifat dominan, dengan menggunakan huruf kapital yang ditulis dua kali. Sifat resesif diberi symbol dengan huruf kecil dari sifat dominant itu tadi. Symbol ditulis dua kali atau sepasang karena kromosom selalu berpasang. Setiap gen pada kromosom yang satu memiliki pasangan pada kromosom homolognya. (Istamar Syamsuri, 2004)

C.     Alat dan Bahan
Kancing genetika (dua warna masing-masing berjumlah 25)
D.     Langkah Kerja
1.       Memisahkan 25 kancing (misal warna hitam) menjadi dua bagian masing-masing terdiri dari 25 buah sebagai gamet jantan, begitu pula kancing warna lain (misal kancing warna putih).
2.       25 kancing+25 kancing putih sebagai gamet jantan dimasukkan ke dalam kotak, begitu pula untuk sisanya dimasukkan ke dalam kotak yang lain sebagai gamet betina.
3.       Mengambil secara acak satu kancing dari kotak1 dan satu kancing dari kotak2, pertemukan dan catat dalam tabulasi.
4.       Dengan cara yang sama emua kancing gamet betina dan gamet jantan habis.

E.     Hasil Pengamatan
Jenis gamet
Turus
Jumlah
Hitam-hitam
IIII IIII IIII
15
Hitam-putih
IIII IIII IIII IIII II
22
Putih-putih
IIII IIII III
13

Dominan         : Hitam (HH)
Resesif            : Putih (hh)
P1                    : HH >< hh
                                Hh
                              Hitam
HH : Hh : hh
15   : 22  : 13
      37 : 12

F.      Pembahasan
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid. (Syamsuri, 2004:101)
Dalam percobaan hukum Mendel I, dilakukan persilangan monohibrid yaitu warna biji. Warna biji hitam (HH) bersifat dominan yang disimbolkan dengan kancing genetic warna hitam, dan warna biji putih (hh) bersifat resesif disimbolkan dengan kancing genetic warna putih.
Persilangan antara kancing hitam (HH) dengan kancing putih (hh) diperoleh F1 yang 100% berwarna hitam (Hh). Karena kancing hitam bersifat dominan. Jika F1 disilangkan dengan sesamanya (F1), maka diperoleh tiga macam fenotipe yaitu hitam-hitam, hitam-putih, dan putih-putih. Dengan genotif untuk hitam (HH), hitam-putih (Hh), dan putih-putih (hh). Menurut hukum Mendel I, perbandingan fenotipe untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1.
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, untuk pengambilan 50x diperoleh data, yaitu untuk warna hitam-hitam sebanyak 15x, warna hitam-putih sebanyak 22 kali, dan warna putih-putih sebanyak 13 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 15:22:13 yang mendekati angka ratio 1:2:1.

G.    Kesimpulan
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid. (Syamsuri, 2004:101).
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, untuk pengambilan 50x diperoleh data, yaitu untuk warna hitam-hitam sebanyak 15x, warna hitam-putih sebanyak 22 kali, dan warna putih-putih sebanyak 13 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 15:22:13 yang mendekati angka ratio 1:2:1.

Laporan Respirasi


RESPIRASI

A.  Tujuan Percobaan
1.    Mengetahui penggunaan dan pengeluaran gas-gas ketika berlangsung proses respirasi
2.    Terampil menggunakan respirometer

B.  Landasan Teori
Pernafasan adalah memasukan udara dari lingkungan luar ke dalam tubuh dan mengeluarkan udara sisa dari tubuh ke lingkungan luar.
Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Respirasi bertujuan untuk menghasilkan energi. Energi hasil respirasi tersebut sangat diperlukan untuk aktivitas hidup. Seperti mengatur suhu tubuh, pergerakan, pertumbuhan dan reproduksi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasi. Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat respirasi yang penting lainnya diantaranya adalah beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan protein (digunakan pada keadaan & spesies tertentu).
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang berfungsi mengangkut dan mngedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trachea memanjang dan bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem transportasi atau darah.
Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigma, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa.Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur.
Pada serangga pertukaran gas dari jaringan dengan udara di lingkungan digunakan dengan menggunakan trakea (anyaman tabung yang berisi udara) sehingga disebut system pembuluh trakea. system pembuluh trakea merupakan system pernapasan yang paling sederhana dan paling efisien. System pernapasan ini terdiri dari suatu system tabung udara yang bercabang-cabang (trakeola) dan setiap cabang akan bercabang lagi, sehingga dapat menjangkau hamper semua bagian tubuh.
Mekanisme pernapasan system pembuluh trakea adalah pertukaran gas dilakukan melalui lubang-lubang pernapasan, yang disebut spirakel atau stigma. Spirakel pada segmen pertama dan ketiga, masing-masing terdapat satu pasang pada tiap sisi toraks (dada) dan delapan pasang lainnya terdapt pada setiap sisi abdomen. Spirakel dilindungi oleh bulu- bulu halus yang berfungsi menahan debu dan benda asing lainnya dari udara sebelum masuk ke dalam trakea. Spirakel dilindungi oleh katub yang dikontrol oleh otot sehingga dapat mengatur membuka dan menutupnya spirakel. Jika otot berkontraksi, spirakel terbuka dan trakea mengembang sehingga udara dari luar dapat masuk ke dalam trakea. Dari trakea udara masuk ke trakeola kemudian ke seluruh tubuh dan akhirnya sampai ke membrane plasma sel dan oksigen akan berdifusi. Karbon dioksida hasil respirasi dibawa melalui system trakea yang akhirnya dikeluarkan melalui spirakel pada saat otot berelaksasi sehingga trakea mengempis. Dengan mekanisme seperti itu oksigen atau karbon dioksida tidak diedrkan melalui darah tetapi melalui pembuluh trakea. Oleh sebab itu, pembuluh darah serangga hanya berfungsi mengangkut sari-sari makanan dan hormon.
Respirometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur rata-rata pernapasan organisme dengan mengukur rata-rata pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Hal ini memungkinkan penyelidikan bagaimana faktor-faktor seperti umur atau pengaruh cahaya memengaruhi rata-rata pernapasan.

C.  Alat dan Bahan
1.    Respirometer
2.    Timbangan
3.    Kapas
4.    KOH/NaOH
5.    Eosin
6.    Vaselin
7.    Jangkrik
8.    Alat suntik
9.    Plastik
10.     Stopwach  

D.  Langkah kerja
1.    Menimbang serangga yang akan digunakan, bila beratnya kurang dari 1 gram gunakan dua ekor serangga.
2.    Mengambil KOH secukupnya, bungkus dengan kapas, kemudian masukan ke dalam respirometer, lalu mesukan serangga, kemudian tutup pipa kapiler berskala.
3.    Menutup ujung pipa berskala dengan telunjuk selama kurang lebih 5 menit, kemudian lepaskan.
4.    Menyuntikan eosin ke dalam pipa berskala.
5.    Mengamati gerakan eosin setiap lima menit sekali.

Laporan Sel Tumbuhan


 SEL TUMBUHAN

A.    Tujuan Percobaan
1.      Melatih keterampilan menggunakan mikroskop
2.      Melatih keterampilan dalam membuat preparat
3.      Memahami dan mempelajari bentuk-bentuk sel tumbuhan

B.     Landasan Teori
Istilah sel pertamakali dikemukakan pada tahun 1665 oleh Robert Hooke, ilmuwan kebangsaan Inggris. Saat meneliti jaringan pada tumbuhan (gabus) Hooke melihat adanya struktur yang sangat kecil dengan bentuk yang teratur serta diselubungi oleh dinding dan dinamai dengan nama sel. Penemuan Hooke tentang sel gabus sebagai sel mati mendorong ahli-ahli lain melakukan penyelidikan dari sayatan-sayatan bagian tubuh makhluk hidup. Sehingga makin kesini pengetahuan tentang sel semakin berkembang. Secara struktural sel merupakan penyusun makhluk hidup, baik makhluk hidup bersel satu atau bersel banyak pada tumbuhan ataupun pada hewan.
Sel merupakan unit (satuan, zarah) terkecil dari makhluk hidup, yang dapat melaksanakan kehidupan. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Berikut ini adalah beberapa ahli beserta teori tentang sel yang dikemukakannya:
1.      Robert Hooke (1665), sel adalah ruangan-ruangan kecil yang dibatasi oleh dinding.
2.      Felix Fontana (1781), orang pertama yang menemukan nukleus (inti sel) i dalam sel hewan. Dia juga menggambarkan adanya nukleolus (anak inti) di dalam nukleus.
3.      Robert Brown (1831), orang pertama yang mengemukakan bahwa nukleus meruoakan bagian dari sel hidup.
4.      Matthias Jacob Schleiden (1838), sel merupakan unit struktural dan fisiologi pada makhluk hidup.
5.      Theodor Schwann (1839), semua makhluk hidup tersusun atas sel-sel dan produk-produk sel.
6.      Joannes Purkinje (1839), menemukan istilah protoplasma atau bahan pertama. Dia meyakini bahwa kunci untuk mempelajari sel terletak di dalam protoplasma.
7.      Rudolf Virchow (1855), sel berada dari sel (omnis cellula e cellula).
Sel juga ada yang termasuk Sel Hidup dan Sel Mati. Sel Hidup ada sel yang masih melakukan aktifitas didalammnya.Lain halnya dengan Sel Mati adalah sel yang didalamnya tidak terdapat tanda-tanda adanya aktifitas.

C.     Alat dan Bahan
1.      Mikroskop
2.      Objek glass
3.      Cover glass
4.      Silet
5.      Jarum
6.      Pinset
7.      Kertas isap
8.      Metilin blue
9.      Gabus kering
10.  Bawang merah
11.  Daun rhoeo discolor

D.    Langkah Kerja
1.      Preparat sel gabus
a.       Membuat sayatan gabus setipis mungkin secara melintang
b.      Meneteskan setetes air pada objek glass
c.       Meletakkan sayatan gabus yang telah kita peroleh di atas setetes air, kemudian tutup secara hati-hati dengan cover glass
d.      Mengamati sayatan gabus dibawah mikroskop
2.      Preparat sel bawang
a.       Mengambil sebutir bawang merah, kemudian dikerat menjadi empat bagian sehingga terlihat lapisan-lapisan umbi bawang
b.      Mengambil satu lapisan dan buat sayatan melintang
c.       Meletakkan sayatan yang kita peroleh pada objek glass yang telah di tetesi air, kemudian tutup dengan cover glass
d.      Mengamati di bawah mikroskop
e.       Kemudian teteskan larutan metilin blue pada salah satu sisi kaca penutup dan pada sisi yang berlawanan di letakan kertas isap
f.       lalu mengamati di bawah mikroskop
3.      Preparat sel Rhoeo discolor
a.       Mengambil sehelai daun Rhoeo discolor, kemudian membuat sayatan membujur daun Rhoeo discolor pada permukaan bawah
b.      Meletakan sayatan yang telah kita peroleh pada objek glass yang telah ditetesi air, kemudian tutup dengan cover glass
c.       Lalu mengamati di bawah mikroskop

E.     Hasil Pengamatan
Gambar
Keterangan
a.    Sel gabus pembesaran 10x
Tampak berbentuk heksagonal, antara sel yang satu dan yang lainnya tersusun rapat dan rapi. Dan warnanya masih terlihat jelas (coklat).
b.    Sel gabus pembesaran 40x
Tampak bentuknya seperti segi enam, dan di dalam sel nya terlihat kosong.
c.    Sel bawang merah pembesaran 10x
Bentuknya sederhana, seperti balok yang tersusun miring. Dan ada cairan yang mengkilat di dalamnya.
d.   Sel bawang merah pembesaran 40x
Bentuknya lebih jelas, dan terlihat ada noktah-noktah titik pada tiap baloknya.
e.    Sel bawang merah di tetesi metilin blue
Bentuknya tampak lebih jelas setelah di tetesi metilen blue. Dan ada bagian yang warnanya lebih pekat dari bagian lainnya.
f.     Sel Rhoeo discolor  pembesaran 10x
Bentuknya segi enam, jarak antar dinding sel berdekatan atau menyatu. Terdapat klorofil dan pigmen ungu.
g.    Sel Rhoeo discolor  pembesaran 40x
Sel nya tampak lebih jelas dari pembesaran 10x. Dan jarak antar selnya lebih terihat jelas.



F.      Pembahasan
Pada pembesaran 10x selgabus  terlihat berbentuk heksagonal, dan jarak antar sel-selnya tersusun rapi dan rapat. Dan  pada pembesaran 40x, sel-sel nya terlihat kosong tidak memiliki inti sel dan tidak terlihat adanya aktifitas sel. Oleh karena itu, sel gabus disebut dengan sel mati karena tidak adanya aktifitas di dalam sel.
Sel bawang merah terlihat sederhana, bentuknya seperti balok yang disusun miring. Dan di dalam sel nya terlihat cairan yang mengkilat, itulah yang dinamakan cairan inti (nukleuplasma) berupa gel transparan dan cairan ini disebut karyotin yang mengandung senyawa kimia yang kompleks. Dan pada pembesaran 40x, terlihat ada noktah-noktah hitam dalam sel bawang, itulah yang dinamakan inti sel. Warna sel bawang merah sebelum ditetesi metilen blue terlihat merata antara inti sel dan bagian-bagian yang lain. Sedangkan setelah ditetesi metilen blue, inti sel menyerap warna lebih kuat sehingga warna di inti sel terlihat lebih tebal.
Sel Rhoeo discolor bentuknya segi enam, jarak antar inding sel sangat rapat dan menyatu satu sama lain. Dan sel Rheo discolor memiliki pigmen warna ungu dan sel-sel nya mempunyai bentuk yang tetap atau tidak berubah-ubah.

G.    Kesimpulan
Setelah melakukan pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
Ø Sel merupakan unit terkecil dalam kehidupan.
Ø Selgabus merupakan sel mati, karena tidak memiliki inti sel dan tidak ada aktiitas sel di dalamnya.
Ø Sel bawang merah bentuknya sederhana namun kompleks, di dalamnya terdapat nukleoplasma (cairan inti). Dan pada saat ditetesi metilen blue, bagian inti sel bawang warnanya lebih pekat karena menyerao lebih banyak metilen blue.
Ø Sel Rhoeo discolor bentuknya segi enam dan memiliki pigmen warna ungu.

Minggu, 06 Mei 2012

Laporan Hukum Mendel


HUKUM MENDEL

A.     Tujuan Percobaan
Mengetahui dan memahami persilangan monohybryd

B.     Landasan Teori
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid. (Syamsuri, 2004:101)
Hukum Mandel I berlaku pada gametogenesis F1. F1 itu memiliki genotif heterozigot. Baik pada bunga betina maupun benang sari, terbentuk 2 macam gamet. Maka kalau terjadi penyerbukan sendiri (F1 x F1) terdapat 4 macam perkawinan. (Wildan Yatim, 1996:76).
Pada galur murni akan menampilkan sifat-sifat dominan (alel AA) maupun sifat resesif (aa) dari suatu karakter tertentu. Bila disilangkan, F1 akan mempunyai kedua macam alel (Aa) tetapi menampakkan sifat dominan (apabila dominant lengkap). Sedangkan individu heterozigot (F1) menghasilkan gamet-gamet, setengahnya mempunyai alele dominant A dan setengahnya mempunyai alele resesif a. Dengan rekomendasi antara gamet-gamet secara rambang populasi F2 menampilkan sifat-sifat dominant dan resesif dengan nisbah yang diramalkan. Nisbah fenotif yaitu 3 dominan (AA atau Aa) : 1 resesif (aa). Nisbah geneotif yaitu 1 dominan lengkap (AA) : 2 hibrida (Aa) : 1 resesif lengkap (aa). (L. V. Crowder, 1997:33)
Sifat yang muncul pada F1 disebut sebagai sifat dominant (menang), sedangkan yang tidak muncul disebut sifat yang resesif (kalah). Oleh Mendel, huruf yang dominant homozigot diberi symbol dengan huruf pertama dari sifat dominan, dengan menggunakan huruf kapital yang ditulis dua kali. Sifat resesif diberi symbol dengan huruf kecil dari sifat dominant itu tadi. Symbol ditulis dua kali atau sepasang karena kromosom selalu berpasang. Setiap gen pada kromosom yang satu memiliki pasangan pada kromosom homolognya. (Istamar Syamsuri, 2004)

C.     Alat dan Bahan
Kancing genetika (dua warna masing-masing berjumlah 25)
D.     Langkah Kerja
1.       Memisahkan 25 kancing (misal warna hitam) menjadi dua bagian masing-masing terdiri dari 25 buah sebagai gamet jantan, begitu pula kancing warna lain (misal kancing warna putih).
2.       25 kancing+25 kancing putih sebagai gamet jantan dimasukkan ke dalam kotak, begitu pula untuk sisanya dimasukkan ke dalam kotak yang lain sebagai gamet betina.
3.       Mengambil secara acak satu kancing dari kotak1 dan satu kancing dari kotak2, pertemukan dan catat dalam tabulasi.
4.       Dengan cara yang sama emua kancing gamet betina dan gamet jantan habis.

E.     Hasil Pengamatan
Jenis gamet
Turus
Jumlah
Hitam-hitam
IIII IIII IIII
15
Hitam-putih
IIII IIII IIII IIII II
22
Putih-putih
IIII IIII III
13

Dominan         : Hitam (HH)
Resesif            : Putih (hh)
P1                    : HH >< hh
                                Hh
                              Hitam
HH : Hh : hh
15   : 22  : 13
      37 : 12

F.      Pembahasan
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid. (Syamsuri, 2004:101)
Dalam percobaan hukum Mendel I, dilakukan persilangan monohibrid yaitu warna biji. Warna biji hitam (HH) bersifat dominan yang disimbolkan dengan kancing genetic warna hitam, dan warna biji putih (hh) bersifat resesif disimbolkan dengan kancing genetic warna putih.
Persilangan antara kancing hitam (HH) dengan kancing putih (hh) diperoleh F1 yang 100% berwarna hitam (Hh). Karena kancing hitam bersifat dominan. Jika F1 disilangkan dengan sesamanya (F1), maka diperoleh tiga macam fenotipe yaitu hitam-hitam, hitam-putih, dan putih-putih. Dengan genotif untuk hitam (HH), hitam-putih (Hh), dan putih-putih (hh). Menurut hukum Mendel I, perbandingan fenotipe untuk persilangan monohibrid pada F2 adalah 3:1.
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, untuk pengambilan 50x diperoleh data, yaitu untuk warna hitam-hitam sebanyak 15x, warna hitam-putih sebanyak 22 kali, dan warna putih-putih sebanyak 13 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 15:22:13 yang mendekati angka ratio 1:2:1.

G.    Kesimpulan
Hukum Mendel I dikenal sebagai hukum Segregasi. Selama proses meiosis berlangsung, pasangan-pasangan kromosom homolog saling berpisah dan tidak berpasangan lagi. Setiap set kromosom itu terkandung di dalam satu sel gamet. Proses pemisahan gen secara bebas dikenal sebagai segregasi bebas. Hukum Mendel I dikaji dari persilangan monohibrid. (Syamsuri, 2004:101).
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan, untuk pengambilan 50x diperoleh data, yaitu untuk warna hitam-hitam sebanyak 15x, warna hitam-putih sebanyak 22 kali, dan warna putih-putih sebanyak 13 kali. Sehingga diperoleh perbandingan 15:22:13 yang mendekati angka ratio 1:2:1.

Laporan Respirasi


RESPIRASI

A.  Tujuan Percobaan
1.    Mengetahui penggunaan dan pengeluaran gas-gas ketika berlangsung proses respirasi
2.    Terampil menggunakan respirometer

B.  Landasan Teori
Pernafasan adalah memasukan udara dari lingkungan luar ke dalam tubuh dan mengeluarkan udara sisa dari tubuh ke lingkungan luar.
Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Respirasi bertujuan untuk menghasilkan energi. Energi hasil respirasi tersebut sangat diperlukan untuk aktivitas hidup. Seperti mengatur suhu tubuh, pergerakan, pertumbuhan dan reproduksi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O. Yang disebut substrat respirasi adalah setiap senyawa organik yang dioksidasikan dalam respirasi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam sel tumbuhan yang secara relatif banyak jumlahnya dan biasanya direspirasikan menjadi CO2 dan air. Sedangkan metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam reaksi-reaksi respirasi. Karbohidrat merupakan substrat respirasi utama yang terdapat dalam sel tumbuhan tinggi. Terdapat beberapa substrat respirasi yang penting lainnya diantaranya adalah beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; pati; asam organik; dan protein (digunakan pada keadaan & spesies tertentu).
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa system trachea yang berfungsi mengangkut dan mngedarkan O2 ke seluruh tubuh serta mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trachea memanjang dan bercabang-cabang menjadi saluran hawa halus yang masuk ke seluruh jaringan tubuh oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam system ini tidak membutuhkan bantuan sitem transportasi atau darah.
Udara masuk dan keluar melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuhnya. Selanjutnya dari stigma, udara masuk ke pembuluh trachea yang memanjang dan sebagian ke kantung hawa.Pada serangga bertubuh besar terjadinya pengeluaran gas sisa pernafasan terjadi karena adanya pengaruh kontraksi otot-otot tubuh yang bergerak secara teratur.
Pada serangga pertukaran gas dari jaringan dengan udara di lingkungan digunakan dengan menggunakan trakea (anyaman tabung yang berisi udara) sehingga disebut system pembuluh trakea. system pembuluh trakea merupakan system pernapasan yang paling sederhana dan paling efisien. System pernapasan ini terdiri dari suatu system tabung udara yang bercabang-cabang (trakeola) dan setiap cabang akan bercabang lagi, sehingga dapat menjangkau hamper semua bagian tubuh.
Mekanisme pernapasan system pembuluh trakea adalah pertukaran gas dilakukan melalui lubang-lubang pernapasan, yang disebut spirakel atau stigma. Spirakel pada segmen pertama dan ketiga, masing-masing terdapat satu pasang pada tiap sisi toraks (dada) dan delapan pasang lainnya terdapt pada setiap sisi abdomen. Spirakel dilindungi oleh bulu- bulu halus yang berfungsi menahan debu dan benda asing lainnya dari udara sebelum masuk ke dalam trakea. Spirakel dilindungi oleh katub yang dikontrol oleh otot sehingga dapat mengatur membuka dan menutupnya spirakel. Jika otot berkontraksi, spirakel terbuka dan trakea mengembang sehingga udara dari luar dapat masuk ke dalam trakea. Dari trakea udara masuk ke trakeola kemudian ke seluruh tubuh dan akhirnya sampai ke membrane plasma sel dan oksigen akan berdifusi. Karbon dioksida hasil respirasi dibawa melalui system trakea yang akhirnya dikeluarkan melalui spirakel pada saat otot berelaksasi sehingga trakea mengempis. Dengan mekanisme seperti itu oksigen atau karbon dioksida tidak diedrkan melalui darah tetapi melalui pembuluh trakea. Oleh sebab itu, pembuluh darah serangga hanya berfungsi mengangkut sari-sari makanan dan hormon.
Respirometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur rata-rata pernapasan organisme dengan mengukur rata-rata pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Hal ini memungkinkan penyelidikan bagaimana faktor-faktor seperti umur atau pengaruh cahaya memengaruhi rata-rata pernapasan.

C.  Alat dan Bahan
1.    Respirometer
2.    Timbangan
3.    Kapas
4.    KOH/NaOH
5.    Eosin
6.    Vaselin
7.    Jangkrik
8.    Alat suntik
9.    Plastik
10.     Stopwach  

D.  Langkah kerja
1.    Menimbang serangga yang akan digunakan, bila beratnya kurang dari 1 gram gunakan dua ekor serangga.
2.    Mengambil KOH secukupnya, bungkus dengan kapas, kemudian masukan ke dalam respirometer, lalu mesukan serangga, kemudian tutup pipa kapiler berskala.
3.    Menutup ujung pipa berskala dengan telunjuk selama kurang lebih 5 menit, kemudian lepaskan.
4.    Menyuntikan eosin ke dalam pipa berskala.
5.    Mengamati gerakan eosin setiap lima menit sekali.

Laporan Sel Tumbuhan


 SEL TUMBUHAN

A.    Tujuan Percobaan
1.      Melatih keterampilan menggunakan mikroskop
2.      Melatih keterampilan dalam membuat preparat
3.      Memahami dan mempelajari bentuk-bentuk sel tumbuhan

B.     Landasan Teori
Istilah sel pertamakali dikemukakan pada tahun 1665 oleh Robert Hooke, ilmuwan kebangsaan Inggris. Saat meneliti jaringan pada tumbuhan (gabus) Hooke melihat adanya struktur yang sangat kecil dengan bentuk yang teratur serta diselubungi oleh dinding dan dinamai dengan nama sel. Penemuan Hooke tentang sel gabus sebagai sel mati mendorong ahli-ahli lain melakukan penyelidikan dari sayatan-sayatan bagian tubuh makhluk hidup. Sehingga makin kesini pengetahuan tentang sel semakin berkembang. Secara struktural sel merupakan penyusun makhluk hidup, baik makhluk hidup bersel satu atau bersel banyak pada tumbuhan ataupun pada hewan.
Sel merupakan unit (satuan, zarah) terkecil dari makhluk hidup, yang dapat melaksanakan kehidupan. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Berikut ini adalah beberapa ahli beserta teori tentang sel yang dikemukakannya:
1.      Robert Hooke (1665), sel adalah ruangan-ruangan kecil yang dibatasi oleh dinding.
2.      Felix Fontana (1781), orang pertama yang menemukan nukleus (inti sel) i dalam sel hewan. Dia juga menggambarkan adanya nukleolus (anak inti) di dalam nukleus.
3.      Robert Brown (1831), orang pertama yang mengemukakan bahwa nukleus meruoakan bagian dari sel hidup.
4.      Matthias Jacob Schleiden (1838), sel merupakan unit struktural dan fisiologi pada makhluk hidup.
5.      Theodor Schwann (1839), semua makhluk hidup tersusun atas sel-sel dan produk-produk sel.
6.      Joannes Purkinje (1839), menemukan istilah protoplasma atau bahan pertama. Dia meyakini bahwa kunci untuk mempelajari sel terletak di dalam protoplasma.
7.      Rudolf Virchow (1855), sel berada dari sel (omnis cellula e cellula).
Sel juga ada yang termasuk Sel Hidup dan Sel Mati. Sel Hidup ada sel yang masih melakukan aktifitas didalammnya.Lain halnya dengan Sel Mati adalah sel yang didalamnya tidak terdapat tanda-tanda adanya aktifitas.

C.     Alat dan Bahan
1.      Mikroskop
2.      Objek glass
3.      Cover glass
4.      Silet
5.      Jarum
6.      Pinset
7.      Kertas isap
8.      Metilin blue
9.      Gabus kering
10.  Bawang merah
11.  Daun rhoeo discolor

D.    Langkah Kerja
1.      Preparat sel gabus
a.       Membuat sayatan gabus setipis mungkin secara melintang
b.      Meneteskan setetes air pada objek glass
c.       Meletakkan sayatan gabus yang telah kita peroleh di atas setetes air, kemudian tutup secara hati-hati dengan cover glass
d.      Mengamati sayatan gabus dibawah mikroskop
2.      Preparat sel bawang
a.       Mengambil sebutir bawang merah, kemudian dikerat menjadi empat bagian sehingga terlihat lapisan-lapisan umbi bawang
b.      Mengambil satu lapisan dan buat sayatan melintang
c.       Meletakkan sayatan yang kita peroleh pada objek glass yang telah di tetesi air, kemudian tutup dengan cover glass
d.      Mengamati di bawah mikroskop
e.       Kemudian teteskan larutan metilin blue pada salah satu sisi kaca penutup dan pada sisi yang berlawanan di letakan kertas isap
f.       lalu mengamati di bawah mikroskop
3.      Preparat sel Rhoeo discolor
a.       Mengambil sehelai daun Rhoeo discolor, kemudian membuat sayatan membujur daun Rhoeo discolor pada permukaan bawah
b.      Meletakan sayatan yang telah kita peroleh pada objek glass yang telah ditetesi air, kemudian tutup dengan cover glass
c.       Lalu mengamati di bawah mikroskop

E.     Hasil Pengamatan
Gambar
Keterangan
a.    Sel gabus pembesaran 10x
Tampak berbentuk heksagonal, antara sel yang satu dan yang lainnya tersusun rapat dan rapi. Dan warnanya masih terlihat jelas (coklat).
b.    Sel gabus pembesaran 40x
Tampak bentuknya seperti segi enam, dan di dalam sel nya terlihat kosong.
c.    Sel bawang merah pembesaran 10x
Bentuknya sederhana, seperti balok yang tersusun miring. Dan ada cairan yang mengkilat di dalamnya.
d.   Sel bawang merah pembesaran 40x
Bentuknya lebih jelas, dan terlihat ada noktah-noktah titik pada tiap baloknya.
e.    Sel bawang merah di tetesi metilin blue
Bentuknya tampak lebih jelas setelah di tetesi metilen blue. Dan ada bagian yang warnanya lebih pekat dari bagian lainnya.
f.     Sel Rhoeo discolor  pembesaran 10x
Bentuknya segi enam, jarak antar dinding sel berdekatan atau menyatu. Terdapat klorofil dan pigmen ungu.
g.    Sel Rhoeo discolor  pembesaran 40x
Sel nya tampak lebih jelas dari pembesaran 10x. Dan jarak antar selnya lebih terihat jelas.



F.      Pembahasan
Pada pembesaran 10x selgabus  terlihat berbentuk heksagonal, dan jarak antar sel-selnya tersusun rapi dan rapat. Dan  pada pembesaran 40x, sel-sel nya terlihat kosong tidak memiliki inti sel dan tidak terlihat adanya aktifitas sel. Oleh karena itu, sel gabus disebut dengan sel mati karena tidak adanya aktifitas di dalam sel.
Sel bawang merah terlihat sederhana, bentuknya seperti balok yang disusun miring. Dan di dalam sel nya terlihat cairan yang mengkilat, itulah yang dinamakan cairan inti (nukleuplasma) berupa gel transparan dan cairan ini disebut karyotin yang mengandung senyawa kimia yang kompleks. Dan pada pembesaran 40x, terlihat ada noktah-noktah hitam dalam sel bawang, itulah yang dinamakan inti sel. Warna sel bawang merah sebelum ditetesi metilen blue terlihat merata antara inti sel dan bagian-bagian yang lain. Sedangkan setelah ditetesi metilen blue, inti sel menyerap warna lebih kuat sehingga warna di inti sel terlihat lebih tebal.
Sel Rhoeo discolor bentuknya segi enam, jarak antar inding sel sangat rapat dan menyatu satu sama lain. Dan sel Rheo discolor memiliki pigmen warna ungu dan sel-sel nya mempunyai bentuk yang tetap atau tidak berubah-ubah.

G.    Kesimpulan
Setelah melakukan pengamatan dapat disimpulkan bahwa:
Ø Sel merupakan unit terkecil dalam kehidupan.
Ø Selgabus merupakan sel mati, karena tidak memiliki inti sel dan tidak ada aktiitas sel di dalamnya.
Ø Sel bawang merah bentuknya sederhana namun kompleks, di dalamnya terdapat nukleoplasma (cairan inti). Dan pada saat ditetesi metilen blue, bagian inti sel bawang warnanya lebih pekat karena menyerao lebih banyak metilen blue.
Ø Sel Rhoeo discolor bentuknya segi enam dan memiliki pigmen warna ungu.